tanpa harus menjual atau belanja bulanan

Sabtu, 31 Desember 2011

RUMAH TANGGA YANG RUKUN PENUH REJEKI

Suatu hari, saya mengikut peringatan satu tahun kematian, teman dan atasan saya, yaitu Bpk Sosro Adimarwoto (mantan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Bina Nusantara).

Saat ini, istri Bpk Sosro berusia 81 tahun, kondisi kesehatan masih sangat baik. Saya menanyakan bagaimana masih ikut tenis. Beliau mengatakan bahwa jika ingin sehat maka jangan berhenti berolah raga. Mungkin usia boleh bertambah tetapi olah raga tidak boleh dihentikan, yang bisa dilakukan adalah mengurangi waktu. Bisa pula dengan cara lain, tidak perlu mengejar bola, tetapi hanya memukul bola yang datang saja.

Kemudian beliau mengatakan, ”Pak Sosro tidak bisa menjadi orang kaya”. Saya kaget, kemudian saya memahami ini ada suatu pesan dari beliau. Dan beliau menyambung cerita tsb bahwa Bpk Sosro pernah menjadi aktivis dari partai Katolik dan anggota DPR di Jawa Timur, tepatnya di Malang. Bpk Sosro pernah didatangi seorang teman yang membutuhkan bantuan uang karena anaknya yang baru saja lahir itu sakit dan hampir meninggal. Tak berapa lama kemudian Bpk Sosro memanggil istrinya. Dan dengan spontan Pak Sosro meminta istrinya untuk mengeluarkan uang tabungan dan segalanya yang ada. Sang istri menjawab bagaimana untuk makan besok. Balas Pak Sosro, itu tidak perlu dipikirkan. Karena menghormati Bpk Sosro, maka diambilnya uang yang ada . Dan akhirnya uang itu diberikan dan orang tua bayi itu sangat berterima kasih. Dan bayi itu tertolong.

Tak berapa lama berselang, saya mendapatkan nasehat dari istri beliau. “Kerukunan Rumah Tangga akan membawa “rejeki” di kemudian hari. Ingat itu!”

Dari cerita di atas, saya mencoba memahami, apa makna dari nasehat tsb. Sebagai seorang istri berhak memarahi suami, karena tidak ada uang untuk besok harinya. Sebagai suami, jika disalahkan, bisa pula membalas dengan marah sehingga terjadi perang mulut atau memendam dalam hati. Saya melihat bahwa seandainya istri tidak mendukung apa yang diputuskan kepala keluarga, maka akan terjadi perkelahian antar keluarga. Keluarga akan menjadi panas, orang yang berada di dalamnya tidak akan betah untuk tinggal. Ayah sebagai kepala akan mengubah atau mengambil tindakan lain.

Jadi janganlah selalu melihat uang. Uang itu penting, tetapi bukan segalanya.

Sebagai istri yang bersih hatinya, yang membantu kepala rumah tangga menjadi tenang dalam mengambil keputusan. Begitupula sebaliknya, tindakan kepala rumah tangga yang bersih pula hatinya, tenang dalam memutuskan sesuatu. Dari ketenangan ini, maka kerukunan akan terjadi, rumah tangga bisa diatur dengan baik, pekerjaan bisa dijalankan dengan lancar. Dari kerukunan terbentuklah benih-benih ”rejeki” yang datang dari Tuhan.

Keluarga Pak Sosro, sangat dihormati baik oleh mahasiswa Universitas Bina Nusantara, oleh lingkungan rumah Pak Sosro termasuk pedagang asongan, oleh tukang parkir, oleh anak-anaknya, juga oleh menantunya. Rejeki yang datang dari Tuhan tidak selalu dalam bentuk kekayaan, tetapi bisa kedamaian, kehormatan, persatuan keluarga dll.

Jagalah kerukunan rumah tangga, kerukunan akan membawa kedamaian, kehormatan, persatuan keluarga, kekayaan, kesuksesan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar