tanpa harus menjual atau belanja bulanan

Jumat, 30 Desember 2011

MEMILIH ENERGI POSITIF UNTUK KEBERHASILAN


Ketika saya membaca buku motivasi atau mendengarkan CD motivasi dari seorang motivator, maka saya pasti akan merasa termotivasi dan bersemangat. Dalam bentuk apakah energi semangat itu terpancar kepada saya? Apakah karena suara sang motivator yang merdu, mantap, dan berapi-api yang saya dengar melalui CD-nya? Yang mampu menggetarkan gendang telinga saya sehingga saya termotivasi? Namun, bagaimanakah dengan membaca buku motivasi? Apakah karena huruf-huruf yang tercetak pada buku motivasi itu indah dan tertata rapi yang mampu membuat saya bersemangat? Apakah juga karena kertas bukunya yang bagus sehingga saya ikut berapi-api? Tentu saja bukan. Yang pasti, yang menyebabkan saya ikut bersemangat dan termotivasi adalah karena "makna" dari informasi yang disampaikan baik melalui buku atau CD tersebut.

Demikian juga ketika kita membaca buku yang bisa membuat kita tertawa. Atau, mendengarkan seorang teman yang bercerita yang membuat kita menangis haru mendengarnya.
Pada dasarnya makna informasi ini mampu membuat seseorang bersemangat, gembira, bahagia, cinta, kasih, jengkel, bosan, tenang, tenteram, damai, dendam, marah, tertekan, depresi, benci, rindu, abstrak, liar, pahit, manis, asin, asam, dll. Semua itu terkait dengan makna informasi yang diterimanya dari lingkungan tempatnya berinteraksi.
Namun, apakah karena informasi (dalam hal ini berita yang menggembirakan) yang tertransfer ke kita yang membuat kita bergembira sedemikian rupa? Agaknya, ada hal lain yang berpengaruh. Bagaimana jika kita sebut hal itu dengan energi yang terpancar dari makna informasi tersebut? Energi dari makna informasi itulah yang membuat kita bergembira atau bahkan melonjak-lonjak kegirangan. Seperti ketika pertama kali Edy Zaqeus—melalui email—menantang saya menulis banyak artikel. Saya sampai menjerit dibuatnya, melompat-lompat, saking senangnya.
Ini berarti, makna informasi yang tertransfer ke kita memiliki energi. Dan, alangkah bijaksananya jika kita memfilter dan menyikapi secara positif informasi yang membuat emosi kita negatif. Yang jelas, emosi negatif tidak akan mendukung keberhasilan kita.
Saya mempunyai sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Yaitu, ketika saya berbicara di depan siswa-siswa SMP di salah satu sekolah swasta di Banyuwangi. Itu merupakan pengalaman pertama saya untuk motivasi. Namun, itu merupakan pengalaman kedua dalam hal memegang mikrofon, setelah sharing di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Saya maju ke depan dan berbicara. Di sana-sini terdengar suara-suara yang meremehkan. Anak kecil memang bisa menjadi makhluk paling kejam dalam berkata-kata. Dan ini sempat membuat saya ragu. Saya melihat sikap-sikap para siswa tersebut memancarkan aura apatisme. Namun, untunglah mereka tidak menunjukkan gejala-gejala kurang air minum, iritasi lambung, dan kejang-kejang, ketika saya memperkenalkan diri. Mereka bertepuk tangan, namun masih dengan aura yang sama.
Saya bercerita dan bercerita. Saya mulai merasa bisa menguasai situasi. Pada tahap ini saya merasakan mereka mulai memperhatikan saya. Saya semakin bersemangat. Mereka semakin tampak tulus bereaksi, tulus memberikan aplaus, dan tulus manggut-manggut. Dan, sampailah pada sesi tanya jawab. Luar Biasa!!! Mereka antusias mengajukan pertanyaan. Dan, acara pun berlangsung sangat meriah.
Sampai di sini, saya ingin menghubungkan dengan ulasan di depan tentang energi makna dari informasi-informasi yang kita terima. Ketika saya melihat sikap skeptis para siswa yang merupakan audiens saya, saya sempat ragu. Betapa hebatnya energi dari informasi yang tidak mendukung saya, yang saya terima melalui penglihatan sehingga membuat saya ragu. Namun, untunglah saya bisa menyikapi secara positif informasi yang merugikan tersebut. Saya terus maju, bergerak, dan tanpa menyerah bercerita dan bercerita. Ketika keadaan mulai berbalik, saya membiarkan energi positif yang saya terima itu terpancar kembali secara alami.
Ada lagi sesuatu yang sangat menarik untuk diceritakan, yaitu ketika salah seorang guru mengajukan sebuah pertanyaan yang "memojokkan" saya.
"Apakah karena Anda seorang TKW atau pembantu rumah tangga sehingga tulisan-tulisan Anda dinilai sangat luar biasa? Coba jika yang menulis itu seorang mahasiswa, mungkin tulisannya akan dibilang biasa-biasa saja, meskipun dengan kualitas yang sama…?!"
Saya pribadi merasa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat LUAR BIASA cerdas, mengena, masuk akal dan cemerlang.
Saya menjawab, "Tulisan-tulisan saya sebelumnya telah saya ujicobakan di sebuah milis yang dihuni oleh para intelek. Bahkan, dimuat di situs bergengsi dan terfavorit yaitu Pembelajar.com. Jika tidak layak, kenapa dimuat? Setelah itu, tulisan-tulisan saya mendapat respon positif dari para pembaca. Ketika pihak penerbit memberi judul Anda Luar Biasa!!!, saya merasa jengah alias GR (gede rasa). Sehingga, saya bertanya kepada seorang penulis senior bahwa saya akan kena efek dari judul tersebut. Beliau berkata, ‘Jangan nilai dirimu sendiri. Jika para senior atau orang lain menilai tulisan-tulisanmu bagus, layak, atau bahkan luar biasa, itulah kamu.’ Maka, keyakinan positif itulah yang kemudian terpatri dalam jiwa saya.”
Sejak itulah, saya hanya mendengarkan hal-hal yang positif tentang saya meskipun saya tidak mengabaikan yang negatif atau yang meremehkan saya. Saya telah membuat keputusan untuk tidak meyakini hal-hal negatif yang akan menghambat keberhasilan. Saya maafkan dan saya terus bergerak, terus berusaha membuktikan bahwa saya sesungguhnya memang layak untuk diperhitungkan.
Bayangkan, jika saya sampai meyakini hal yang menghambat saya, maka energi negatifnya akan benar-benar meluluhlantakkan saya. Padahal, mungkin saya belum tentu seperti itu. Bahkan, mungkin saya bisa menjadi Luar Biasa!
Jika tulisan saya memang tidak layak baca, mungkin para endoser akan enggan mengomentari naskah saya, dengan berbagai alasan yang masuk akal seperti, "Maaf ya Eni, saya sibuk banget mengevakuasi korban perang di kafe es teller di Pondok Indah, sehingga tidak sempat baca naskahmu.”
Atau lebih ekstrim lagi, "Lho bukannya memberi endorsement untuk penulis pemula ilegal di negara kita?" Intinya, yang perlu saya sampaikan di sini adalah, mereka tidak akan mempertaruhkan nama besar mereka untuk sebuah bacaan yang tidak layak dan jauh dari mutu. Jika hal nekat ini mereka lakukan, akan benar-benar sangat membahayakan “nyawa”.
So, pilihlah segala informasi yang mendukung keberhasilan Anda untuk menjadi keyakinan Anda. Jika lingkungan tidak memandang positif terhadap Anda, jangan buru-buru meyakininya. Introspeksi dan terus belajar sehingga Anda bisa membuktikan bahwa Anda tidak seperti yang mereka katakan.
Pada umumnya, pembantu rumah tangga atau pekerja kasar lainnya dipandang tidak berpendidikan. Saya introspeksi dan terus belajar untuk mendobrak mitos tersebut. Bisa, semua bisa jika kita terus belajar.Apakah saya telah berhasil mendobrak mitos itu, saya serahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Saya hanya meminta jika boleh, julukan untuk kami diubah dari TKW menjadi Pahlawan Devisa. Bahkan, ketika petugas di bandara menyapa kami.
Meskipun, saya pribadi tidak keberatan dengan julukan "babu" sekalipun. Namun, julukan baru, paling tidak untuk memotivasi kami untuk bertanggung jawab dalam hidup, tanpa tergantung pada orang lain bahkan negara? Meski negara kami tergantung pada salah satunya, devisa kami.
Kami punya jiwa dan rasa. Sama. Kami sama seperti Anda. Bahkan mungkin kami bisa membantu pendidikan anak-anak miskin di negara ini tanpa minta uang negara. Kami tidak punya laptop, kami tidak mampu membelinya meskipun hanya Rp3 juta saja (laptop bekas). Tetapi, kami bisa bekerja dengan sangat cerdas. Bagaimana menurut Anda?

Biarlah embun berkata 
Fajar bersinar
Di sini
Kami tetap akan bergerak
Bersama-sama
Karena kita sama<>

Mari berubah dari "chicken" menjadi "eagle". Berani?[ek]
* Eni Kusuma adalah mantan pembantu rumah tangga (TKW) di Hong Kong yang kini tinggal di Banyuwangi. Ia berhasil menulis buku motivasi berjudul “Anda Luar Biasa!!!” yang diterbitkan oleh Fivestar Publishing (April, 2007). Cetak pertama buku ini sebanyak 3.000 eksemplar ludes di pasaran dan langsung cetak ulang sebanyak 5.000 eksemplar pada bulan pertama peredarannya. Belum lama ini, profilnya dimuat di harian “Jawa Pos”, “Kaltim Pos”, “Antara”, “Nyata”, “Wanita Indonesia”, dll. Ia juga sudah tampil di Metro TV, Trans TV, dan JTV. Saat ini, Eni tengah mengembangkan diri sebagai seorang motivator (public speaker) dengan cara membagikan semangatnya melalui seminar-seminar untuk segala kalangan. Eni dapat dihubungi di HP: 081389641733 atau email: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar